BANGUNAN KELUARGA (Sebuah refleksi hidup…

BANGUNAN KELUARGA

(Sebuah refleksi hidup berkeluarga dan maupun bagi mereka yang akan menempuhnya)

Keluarga adalah bagaikan suatu bangunan yang mempunyai bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain. Setiap bagian ini sangat penting dan saling berkaitan untuk menciptakan keluarga yang kokoh. Bangunan keluarga di sini bukanlah terutama fisiknya namun spiritual atau “Roh-Nya”.

ATAPNYA ialah doa dan iman. Doa dan iman inilah yang melindungi keluarga dari goncangan dunia yang datang dari luar seperti ketidaksetiaan dan godaan. Kedua hal ini juga mempersatukan keluarga dengan Allah yang adalah pemimpin tertinggi keluarga.

DINDINGNYA ialah kasih. Kasih inilah yang mengikat setiap anggota keluarga sehingga mampu hidup rukun, damai, bahagia dan harmonis. Kasih ini mendorong suami dan isteri untuk saling setia satu sama lain. Kasih ini menyelimuti anggota keluarga dari cengkeraman materi dan harta yang kerap merusak tatanan hidup suatu keluarga.

DASAR atau ALASANYA ialah pengertian. Ini yang mengajak setiap anggota keluarga untuk saling menerima satu sama lain apa adanya. Dan terakhir JENDALA dan PINTUNYA ialah dialog satu sama lain. Dialog ini mendorong mereka untuk saling terbuka dan mengedapankan kepentingan keluarga di atas kepentingan pribadi.

Saudaraku yang terkasih, menciptakan bangunan keluarga yang utuh tidaklah mudah namun kamu pasti bisa. Kamu, khususnya suami dan isteri harus berkorban. Ini adalah panggilan dari Allah bagi suami dan isteri. Suatu keluarga kokoh bukan karena bangunannya bangunannya yang megah, beratapkan genteng yang mahal, berdindingkan beton yang tebal dan beralasakan keramik yang indah. Keluarga itu akan berdiri kokoh kalau berdasarkan doa dan iman, kasih yang tercipta dan dialog yang terjalin.

Hal-hal itulah yang akan mendorong suami dan isteri untuk saling terbuka, setia, berdialog dan rendah hati. Karena itu untuk menciptakan bangunan keluarga yang utuh pasutri harus saling bekerjasama. Hindarilah berjalan sendirian. Jauhkanlah sikap egois dan mau menang sendiri. Kikislah pemikiran negatif akan satu sama lain. Buanglah sikap bahwa kamulah yang paling capek dan berjasa dalam keluargamu.

Yakinlah tugas dan peran setiap orang pasti berbeda namun yang paling utama ialah bagaimana suami, isteri dan bahkan anak-anak menunjukkan tanggungjawabnya dengan tulus ikhlas. Ketika setiap pihak mau berkorban kendati kecil dan sederhana di situlah bangunan keluargamu akan berdiri kokoh megah. Di sanalah bahtera keluargamu akan tetap berderap melangkah teguh walau badai kehidupan menggoncang. Amin.

Tuhan Yesus memberkati kita selalu.

This entry was posted in facebook. Bookmark the permalink.